Langsung ke konten utama

Kenapa berbeda? Hikmah dibalik ragam bacaan Qiraat Al-Qur’an



Bismillah.

Al-Qur’an adalah sebuah kitab dengan keotentikan yang sangat terjaga dari sejak diturunkan hingga hari kiamat kelak baik secara lafadz bacaan maupun secara pengamalan nya, dalam pengamalan nya sendiri tidak sedikit perbedaan perbedaan yang terjadi baik dari segi hukum (baca: muamalah, ibadah dll), bahasa dan sastra (baca:gramatika) nya, hal itu disebabkan karena ayat yang diturunkan pun beragam bentuk bacaan nya (baca: keotentikan alqur’an dari segi qiraat nya) sehingga beragam pula penisbatan terhadapnya, akan tetapi Perbedaan yang dimaksud disini adalah perbedaan yang tidak saling berkontradiksi antara bacaan imam yang satu dengan bacaan imam yang lain karena itu bersifat mustahil terjadi dan sesuatu pun jika telah dibenarkan oleh Rasulullah  maka wajib untuk diterima kebenaran nya, tidak menolaknya dan menjadi sebuah kewajiban untuk beriman kepada nya karena semuanya itu diturunkan oleh Allah SWTuntuk kemaslahatan ummat manusia itu sendiri.

Perbedaan perbedan inilah lalu kemudian para ulama terdahulu menjadikan nya sebuah bidang keilmuan khusus yang disebut dengan “ilmu Qiraat”.

Menurut bahasa qiraat (قراءات) adalah bentuk plural (jamak) dari qiraah (قراءة) yang merupakan asal kata dari qaraa (قرأ), yang artinya bacaan.

Adapun secara istilah qira’ah para ulama memberikan beberapa pengertian yan berbeda beda, namun penulis memilih pengertian dari Imam Ibnu Al-Jazary yaitu cara membaca Al-Qur’an oleh seorang imam ahli qiraah yang berbeda dengan cara membaca imam yang lain. 


Perbedaan dan sebab perbedaan pada qiraat Al-Qur’an telah penulis paparkan pada tulisan tulisan yang lalu (baca:paham yang salah terhadap qiraat sab'ah part 1 & 2), pada tulisan kali ini penulis akan memaparkan beberapa hikmah dibalik ragam perbedaan qiraat bacaan Al-Qur’an secara umum.

Pertama, Memberikan kemudahan kepada ummat

Allah tidak menjadikan hambanya merasa terpaksa dalam urusan agama nya, dan mengasumsikan bahwa agama ini terasa sulit untuk menjalani atau mempelajari nya. Pun dalam hal membaca Al-Qur’an, Allah menurunkan Al-Qur’an dengan ragam lahjah dan dialek yang berbeda, dan setiap dialek/lahjah tidak saling bertolak belakang satu sama lain, sehingga mereka kabilah kabilah arab pada masa itu bisa memilih dengan dialek/lahjah mana yang mudah bagi mereka secara adat (kebiasaan) mereka agar mudah dalam menghafalkan dan mengamalkan, dan juga menyampaikan kepada anak cucu mereka.

Kedua, menjadi bukti keagungan nya

Pada masa awal sebelum penulisan Al-Qur’an (baca:keotentikan Al-Qur’an dari segiqiraat nya) qiraat Al-Qur’an sempat menjadi kekhawatiran sahabat huzaifah Ra dan khalifah Ustman bin affan dzunnurain kala itu, dikarenakan perbedaan qiraat yang terjadi pada saat itu belum ditetapkan secara mutlaq oleh khalifah dan mereka saling meyakinkan qiraat  yang mereka bacakan bersumber dari Rasulullah saw, namun setelah penetapan qiraat yang shahih khalifah lalu kemudian memusnakah manuskrip manuskrip qiraaat dari kalangan kaum muslimin lalu kemudian menyebarkan mushaf yang telah ditetapkan oleh sahabat ahlulqurra pada masa itu. Dari sinilah pembelajaran ilmu qiraat berkembang pesat dan menjadi bukti bahwa bacaan Al-Qur’an sangat agung dengan terbuktinya keotentikan nya dari segi qiraat nya.

Ketiga, menjadi penjelas dan menafsirkan hukum yang masih sulit dalam pemahaman nya

Beragam nya qiraat  bacaan quran yang diturunkan menjadikan ummat ini lebih mudah dalam mengistimbatkan hukum terhadap bacaan qiraat Al-Qur’an, maka dari itu para ulama juga telah menetapkan perbedaan perbedaan hukum nya dalam kitab kitab mereka. contoh perbedaan pengisbatan dari segi hukum hukum ibadah seperti haji, umrah, keluarga (pernikahan, perceraian) aurat, dll, sampai kepada hal hal kecil seperti bersuci (taharah). Dan hal hal seperti inilah yang tidak perlu diperdebatkan lagi dizaman sekarang, karena para ulama terdahulu telah membahas perbedaan perbedaan hukum ini yang bermuara langsung kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw sehingga sangat jelas pengisbatan nya, dan perbedaan perbedaan ini tidak menjadi identitas suatu golongan saja yang hanya membenarkan satu pendapat saja dan menolak perbedaan pendapat yang lain melainkan menjadi bentuk keunikan dan ragam wawasan keilmuan dalam beragama.

inilah beberapa hikmah secara umum perbedaan ragam qiraah bacaan Al-Quran, In Syaa Allah hikmah secara khusus dan spesifik dari segi hukum ibadah, muamalah dll akan penulis paparkan pada tulisan mendatang.

Wallahu ‘alam
.
.
.

Referensi :

- Kitab : Nasyr Al-Qiraat Al-Asyarah, penulis : Imam Al-Qurra’ Ibnu Al-Jazari, tahqiq fadhilatu As-Syeikh Aiman rusydi suwaid, Penerbit : Dar Al-Ghautsani li Ad-dirasati Al-Qur’aniyyah. Nibrus 2018.

- Kitab : Al-Ibanah ‘An ma’ani Al-Qiraat, penulis : Imam ‘Allamah Abu Muhammad Makki bin Abi Thalib, tahqiq duktur Abdul Fattah Ismail, penerbit : Dar Nahdah misr. Mesir tanpa tahun.  





Cairo, 9 Maret 2020




Komentar

Postingan populer dari blog ini

apa itu qiraah asyarah sugra dan kubra?

Bismillah...      Pada masa kekhalifaan Usman bin Affan periwayatan al-Qur’an dengan berbagai ragam bacaan nya telah menemukan titik terang nya pasca ditetapkan nya tiga kaidah baku yang telah ditetapkan oleh khalifah dan para tim penulis wahyu, terlebih saat beliau kembali memerintahkan para ulama delegasi beliau diutus kembali ke amsar,  baca: tujuh kota pusat perkembangan islam.   Ditangan para delegasi inilah kemudian lahirlah para imam qiraat sepuluh yang sampai pada kita hari ini, dimana dari kesepuluh imam tersebut terdapat dua murid yang masyhur dikalangan para ahlulqurra pada masa itu yang kemudian meriwayatkan dan kemudian memberikan kaidah bacaan yang mereka dapatkan dari gurunya, diantara mereka ada yang berguru secara langsung dan juga diantara mereka ada yang berguru melalui perantara, inilah yang disebut dengan periwayatan   bil washitah.  Penetapan para perawi ini berdasarkan kredibilitas dan juga kemasyhuran para perawi nya, sehigga ji...

Nuzulu al-Qur'an Part 1 (Pengertian dan Tahapan nya)

Bismillaah… Tak terasa bulan Ramadhan telah memasuki separuh akhir dari perjalanan nya, bulan yang didalam nya penuh dengan keberkahan yang melimpah, bulan yang didalam nya diampuni segala dosa, dan juga bulan Dimana al-Qur’an kali pertama diturunkan ke  bait al-Izza , yang dari  peristiwa monumental ini juga yang menandai awal dari wahyu yang diterima oleh baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai bukti kenabian, dan juga sebagai dalil bahwa al-Qur’an bukan lah karangan malaikat Jibril ataupun Nabi SAW.  Dan pengetahuan tentang nuzul al-Qur’an merupakan asas dalam keimanan kita terhadap al-Qur’an. Namun bagaimana peristiwa Nuzul al-Qur’an tersebut terjadi? Dan apa kaitan nya dengan malam laila al-Qadr? Berikut Ulasan nya. Nuzul al-Qur’an Pengertian Dalam banyak kitab lughah, Lafadz  نزل   dalam konteks Nuzul al-Qur’an mengarah pada makna turun nya sesuatu dari atas ke bawah, akan tetapi pemaknaan ini tidak sesuai dengan eksistensi al-Qur’an se...

Nuzulu al-Qur'an Part 2 (Bagaimana Allah Menyampaikan wahyu al-Qur'an kepada malaikat Jibril As?)

Bismillaah  Pada tulisan yang lalu telah kita ketahui pengertian  nuzulu al-Qur’an  serta tahapan  nuzul  nya (baca disini ),  akan tetapi pembahasan tersebut tentu belum membuat nalar rasional kita berhenti bertanya hingga kita dapat mengimani nya dengan bukti rasional dan penuh kesadaran tanpa dogma sebagaimana sebagian orang hanya menerimanya begitu saja tanpa merenungi peristiwa terjadi nya dengan kacamata nalar kritis, bagaimana hal tersebut ia katakan sebagai sebuah keimanan dan mengklaim dirinya telah mengimani  nuzulu al-Qur’an ? Sedang keimananan melazimkan bukti secara rasional!. Pada tulisan kali ini penulis berusaha menguraikan beberapa hal yang hingga saat ini menjadi pertanyaan bagi sebagian orang yang belum mengenyangkan perut yang lapar, serta belum menghilangkan dahaga di Tengah Terik nya matahari disiang hari. Bagaimana Allah menyampaikan wahyu al-Qur’an kepada malaikat Jibril? Pembahasan ini merupakan bagian dari  umur gaib...